|
Home
| |
Koran Kompas, 1 Agustus 2007


Sabtu,
21/07/2007
Binis Indonesia Online
http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/fokus-daerah/1id15437.html
Bisnis lobster bisa bantu entaskan
kemiskinan
|
Sektor usaha perikanan di Jawa Timur kini menjadi salah
satu pilihan masyarakat untuk ditekuni sebagai upaya melakukan perbaikan
taraf hidup, salah satu usaha perikanan yang belakangan cukup diminati yaitu
budi daya keluarga Cherax atau lebih dikenal dengan sebutan lobster air
tawar.
Maraknya budi daya lobster air tawar di provinsi tersebut kini telah
merambah merata di sejumlah wilayah Jawa Timur sejak 2005. Beberapa lokasi
di Jatim yang menjadi sentra pengembangan budi daya komoditas yang diminati
pasar ekspor itu adalah Kabupaten Tulungagung, Kab. Blitar, Kab. Jombang,
Kab. Lamongan, Kab. Malang, Kab.Situbondo dan Kota Probolinggo.
Usaha budi daya lobster ini menjadi menarik, karena produknya memiliki nilai
jual tinggi, meski durasi masa panen mencapai 6-7 bulan, namun dengan harga
untuk pasar lokal mencapai kisaran Rp100.000-Rp120.000 per kg (isi 10-12
ekor) menjadi sektor usaha yang prospektif.
Apalagi bila produksi lobster itu dikelola dengan pengawasan kualitas yang
ketat, sehingga bisa menembus pangsa mancanegara, maka harganya pun semakin
tinggi. Di pasar ekspor, dihargai tidak pernah kurang dari Rp150.000 per kg
untuk isi 10-12 ekor itu.
Ada dua sektor usaha yang melingkupi budi daya lobster yaitu pembenihan dan
pembesaran. Usaha pembenihan lobster ternyata juga cukup menguntungkan,
karena harga jual benih ukuran 1-2 inci cukup tinggi yaitu Rp1.500-Rp2.500
per ekor.
Meski demikian, perkembangan para petani maupun pembudidaya yang pesat di
Jatim tersebut masih belum terpantau dan terdata secara detail oleh pihak
terkait baik Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota maupun Provinsi
Jatim. Namun, dari pantaun data yang dihimpun Bisnis, pelaku usaha lobster
di Jatim ditaksir mencapai 1.300 orang.
Geliat pembudidayaan lobster air tawar khususnya jenis Cherax quandrinatus
di Indonesia sebenarnya relatif baru, karena baru dikembangkan awal
1990-an. Proses budi daya itu akhirnya juga merambah Jatim, yang memang
dikenal memiliki potensi perikanan (darat maupun laut) yang kuat.
Namun, kala itu pengembangan lobster air tawar di Jatim masih terbatas untuk
produk komoditas ikan hias. Baru sekitar 2005 hewan yang habitat awalnya di
laut itu mulai dikembangkan untuk komoditas konsumsi.
Namun dari beberapa daerah sentra itu, Kab. Tulungagung bisa disebut pionir
bahkan menjadi yang terbesar produksinya, karena setidaknya di wilayah itu
ada sekitar 600 petani dan pembudidaya lobster air tawar yang eksis, di mana
sebagian besar produksinya telah diserap pasar lokal maupun mancanegara.
Besarnya potensi pengembangan usaha lobster di daerah itu setidaknya menarik
perhatian Gubernur Jatim Imam Utomo.
Bahkan kala kunjungan kerja memantau program Gerakan Terpadu Pengentasan
Kemiskinan di Desa Kepuh Rejo, Kecamatan Ngantru Kab.Tulungagung pada Juni
2005, Gubernur menetapkan Tulungagung sebagai Klaster Pengembangan Budi daya
Lobster Air Tawar di provinsi itu.
Setidaknya ada tiga wilayah di Kab. Tulungagung yang menjadi sentra budi
daya lobster darat itu yaitu Kecamatan Ngantru, Kec. Kedungwaru, dan yang
terbesar Kec.Besuki.
Hasil produksi kegiatan budi daya di Ngantru dan Kedungwaru ditujukan untuk
konsumsi dalam negeri, sedangkan di Besuki yang dikelola Pondok Pesantren
Jawaahirul Hikmah lebih difokuskan untuk komoditas ekspor.
Upaya Pemprov Jatim khususnya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) mendorong
budi daya lobster air tawar cukup serius, bahkan usaha itu kini dimasukkan
menjadi salah satu andalan dalam program pengambangan kawasan budi daya
perikanan dan diharapkan dapat menjadi bagian dalam pengentasan kemiskinan.
"Budi daya lobster akan terus dikembangkan. Usaha lobster air tawar ini
diharapkan menjadi usaha produktif yang signifikan dalam pengentasan
kemiskinan di Jatim," kata Imam Utomo kepada Bisnis, pekan ini.
Secara khusus Gubernur Jatim itu menyoroti proses pengembangan budi daya
lobster yang sedang marak di masyarakat agar tetap dijaga kualitasnya serta
kontinuitas produksi sehingga akan dapat diserap pasar.
Butuh peran Pemerintah
Kendala menjaga kualitas produk dan jaminan kuantitas produksi serta membuka
pasar sedang menjadi tantangan dan kendala bagi pelaku usaha pengembangan
lobster darat yang skalanya masih belum besar. Kondisi itu setidaknya perlu
pemecahan dengan pembinaan dari pemerintah.
Sorotan terkait peningkatan peran pembinaan pemerintah dalam sektor budi
daya lobster darat itu ditegaskan Ketua Masyarakat Kelautan dan Perikanan
Jatim Oki Lukito.
"Pemerintah perlu serius melakukan advokasi pada masyarakat Jatim yang
sangat meminati usaha budi daya lobster darat ini. Peran itu pada upaya
membuka dan mendekatkan pasar, pembinaan teknis serta penguatan modal. Namun,
peran itu kini masih terkesan setengah-setengah," ungkap Oki kepada Bisnis,
pekan ini.
Peran yang tidak serius itu, lanjut Oki, terlihat dari belum dimasukkannya
budi daya lobster darat itu dalam program dana penguatan modal (DPM) yang
dikelola Departeman Kelautan dan Perikanan (DKP).
"Hingga kini, program DPM- DKP belum menyentuh usaha itu, padahal budi daya
lobster air tawar masuk kategori padat modal, yang sangat prospektif
dikembangkan sehingga bantuan modal menjadi cukup penting," ungkapnya.
Oki yang juga Sekretaris Eksekutif Dewan Maritim Jatim itu menegaskan
maraknya budi daya lobster darat itu mesti tangani secara bijak, agar tidak
bernasib sama dengan pengembangan bidaya udang pada era 1980-an yang hancur
karena tidak terjaganya kualitas, khususnya bagi pasar ekspor.
"Perlu pemetaan pengembangan, jangan sampai booming produksi tidak terserap
pasar akibat rendahnya kualitas produk," tegasnya. (redaksi@bisnis.co.id)
Oleh Adam A Chevny & Yuristiarso Hidayat
Kontributor Bisnis Indonesia
|

Jumat, 19 Januari 2007 |
|
Kompas, Medan |
|
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0701/19/daerah/3259289.htm |
|
Perikanan
Permintaan Lobster Air Tawar di Sumut Meningkat
Medan, Kompas - Semakin merosotnya produksi lobster laut membuat
permintaan lobster air tawar di Sumatera Utara meningkat. Sayangnya,
permintaan tersebut belum diimbangi dengan ketersediaan produk.
"Sampai saat ini kami masih kesulitan mencari benih. Kami baru bisa
memasok separuh dari kebutuhan. Itu baru kebutuhan benih, belum kebutuhan
lobsternya," kata Juwari, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Budidaya Perikanan
Lobster Air Tawar, Medan, Sumatera Utara (Sumut), Kamis (18/1).
Sekarang ini, lanjut Juwari, dia hanya mampu memasok 5.000 nener dari
10.000 ekor kebutuhan nener tiap bulan. Juwari juga menerima permintaan
ekspor lobster ke Malaysia sebanyak 1 ton, tetapi tak ada produk yang bisa
dikirimkan. "Pasar masih sangat terbuka di Sumut," katanya.
Nener sebesar 1 inci dijual Rp 1.250 per ekor, sedangkan harga lobster
siap konsumsi usia sekitar tujuh bulan Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per
kilogram. Satu kilogram berisi 10 ekor hingga 15 ekor lobster.
Juwari menambahkan, permintaan lobster dari restoran dan hotel pun tinggi,
tetapi sampai kini semua itu belum terpenuhi.
Awi, anggota Asosiasi Pengusaha Budidaya Lobster Air Tawar, mengatakan,
budidaya lobster air tawar di Sumut masih diarahkan pada lobster hias.
Pengembangan untuk konsumsi, katanya, masih sangat minim meski permintaan
ekspor cukup tinggi.
Ketua Asosiasi Pengusaha Budidaya Lobster Air Tawar RM Sinurat
mengemukakan, budidaya lobster sebenarnya bisa dilakukan secara
besar-besaran. Bahkan hal itu dapat dilakukan di rumah sebagai pekerjaan
sampingan. Hanya saja, kata Sinurat lebih lanjut, pemeliharaannya butuh
keseriusan. (wsi) |

Senin, 09 Oktober 2006 |
|
Kompas, Jogja |
|
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0610/09/jogja/29604.htm |
|
|
Perikanan
Pasar Lobster Air Tawar Makin Bergairah
Yogyakarta, Kompas - Minat masyarakat untuk mengonsumsi lobster makin
meningkat. Permintaan hotel maupun rumah makan untuk menyajikan masakan
lobster juga semakin banyak. "Sampai saat ini belum semua permintaan
terpenuhi. Apalagi, sejumlah hotel minta dikirimi dua kilogram lobster per
minggu. Biasanya mereka membutuhkan lobster konsumsi yang setiap satu
kilogram berisi sekitar 12 ekor," kata Raymond Panggabean, salah seorang
peternak lobster di Yogyakarta, dalam acara workshop "Peluang Bisnis Lobster
Darat di Kawasan DIY", Sabtu (7/10) di Pusat Studi Pedesaan Universitas
Gadjah Mada. Saat ini fokus peternak yang sebagian terpusat di daerah Turi,
Sleman, adalah pembenihan lobster.
Dalam sebulan Raymond bisa menyediakan sekitar 20.000 benih dengan harga
jual Rp 2.500 per ekor. Berdasarkan analisis usaha, nilai titik impas usaha
pembenihan lobster Rp 641,45 per ekor. "Itu pun belum semua permintaan
terlayani," tuturnya. Di Indonesia lobster air tawar umumnya dipelihara
sebagai udang hias karena warnanya sangat menarik. Jika kekurangan sinar
matahari, lobster akan berwarna biru metalik, biru muda, atau biru tua.
Dosen Fakultas Perikanan UGM, Ir Hardaningsih MSi, mengutarakan, budidaya
lobster sebenarnya tidak terlalu sulit. Untuk hasil maksimal, kolam
pembenihan sebaiknya dibuat dari tanah atau kolam alami. Tujuannya agar
lobster merasa nyaman karena karakter binatang ini memang menyukai media
yang berongga-rongga. "Di daerah-daerah pegunungan seperti Sleman bagian
atas benih lobster lebih mudah terserang penyakit. Untuk hasil maksimal
pemberian makan juga harus sesuai dengan waktu dan teratur. Misalnya saja
pemberian makan di malam hari yang kadang dilupakan oleh peternak. Tingkat
kematian lobster tertinggi biasanya karena faktor kanibalisme saat moulting
atau ganti kulit," katanya. (ENY) |

Bisnis Indonesia, 05/04/06
Dinas perikanan
maupun pemerintah daerah (pemda) perlu memiliki perhatian lebih serius terhadap
pengembangan lobster
air tawar
Indonesia dinilai
berpeluang mengekspor lobster air tawar ke Singapura dan Hong Kong seharga
Rp250.000 per kilogram size 10. Pemimpin perusahaan budi daya lobster air
tawar Santoso Farm, FX. Santoso T., mengatakan, sektor usaha tersebut cukup
prospektif untuk dikembangkan seiring besarnya kebutuhan pasar internasional.
Kami kini tengah menjajaki ekspor lobster layak konsumsi ke Singapura dan Hong
Kong karena kebutuhan kedua negara itu cukup besar, paparnya. Santoso
menambahkan, dinas perikanan maupun pemerintah daerah (pemda) perlu memiliki
perhatian lebih serius terhadap pengembangan lobster air tawar karena kegiatan
budi daya komoditas tersebut mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.
Pembudidayaannya tergolong mudah dan tidak membutuhkan tempat yang luas. Peluang
ekspor lobster air tawar saat ini lebih banyak dimanfaatkan pengusaha asal
Australia, Cina (Republik Rakyat Cina atau RRC), AS (Amerika Serikat) dan dalam
waktu tidak lama lagi petani Thailand maupun Vietnam akan melirik usaha ini.
Karena itu, Indonesia jangan ketinggalan, tambah Santoso. (Bisnis Indonesia,
05/04/06)

Rabu, 09/05/2007
KNPI Kepri kembangkan lobster
http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/agribisnis/1id4850.html
BATAM: Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Pemuda DPD Komite Nasional Pemuda
Indonesia (KNPI) Provinsi Kepulauan Riau menjalin kemitraan dengan PT Permata
Lobster dan Gabungan Pengusaha Lobster Jabar dalam pembudidayaan lobster air
tawar di Pulau Batam.
Kemitraan ini dalam bentuk pelatihan bagi 100 orang wirausahawan baru dan
bantuan modal kepada 100 orang senilai Rp1,5 miliar.
Berto Izaak Doko, Ketua Umum DPD KNPI Provinsi Kepri, menjelaskan program
kemitraan ini salah satu bentuk komitmen organisasi itu dalam menciptakan
peluang usaha bagi pemuda. "Kami ingin memberikan wadah bagi pemuda untuk
menjadi wirausahawan," ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.
Sementara itu Dida Priya Utama, Ketua Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Pemuda KNPI
Kepri, menjelaskan pihaknya sudah bertemu dengan manajemen PT Permata Lobster
dan Gabungan Pengusaha Lobster Jawa Barat untuk memberikan asistensi kepada
calon petani tambak di Batam. (Bisnis/sus)

| Koran Republika, Senin, 07 Agustus 2006
DKP Luncurkan Tiga Varietas Ikan
Unggulan
http://www.republika.co.id/
Jakarta-RoL-- Badan Riset Kelautan
dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan (BRKP-DKP) meluncurkan tiga
varietas ikan air tawar unggulan yang memiliki potensi ekspor.
Ketiga varietas ikan yang peluncurannya dilakukan Menteri Kelautan dan
Perikanan, Freddy Numberi di Sukamandi, Kabupaten Subang Jawa Barat, Senin
itu meliputi patin hibrid Pasupati, lobster air tawar Huna Biru dan lobster
air tawar Huna Capit Merah.
Menteri menyatakan, setelah dilakukan peluncuran varietas baru tersebut
para peneliti agar tetap memantau varietas ikan yang akan disebar ke
masyarakat.
"Pemantauan tersebut untuk mengantisipasi munculnya penyakit atau
tumbuhnya benih yang abnormal akibat ketidakpahaman masyarakat dalam
manajemen budidaya," katanya.
Para peneliti, tambahnya, harus sudah menyiapkan standar operasional
pelaksanaan (SOP) sistem budidayanya agar masyarakat dapat membudidayakan
ikan-ikan tersebut dengan cara yang benar dan ramah lingkungan.
Menurut Kepala BRKP, Indroyono Susilo, peluncuran varietas baru ikan air
tawar tersebut untuk mengimbangi komoditas ekspor unggulan yang selama ini
kebanyakan berasal dari perikanan laut seperti tuna atau udang windu.
"Perikanan air tawar selama ini dianggap kelas dua sehingga para peneliti
melakukan penelitian untuk menghasilkan komoditas ikan air tawar unggulan,"
katanya.
Selain itu, tambahnya, pengenalan varietas baru ikan air tawar tersebut
dalam upaya meningkatkan konsumsi gizi dan protein di masyarakat dengan
menyediakan ikan dengan harga yang terjangkau.
Indroyono menyatakan, ikan Patin Hibrid Pasupati merupakan hasil
persilangan antara ikan Patin Siam dengan Patin Jambal
Ikan Patin Siam, tambahnya memiliki karakter toleran terhadap lingkungan
namun memiliki warna daging kemerahan yang kurang diminati pasar luar negeri.
Sementara Patin Jambal meskipun kurang tahan oksigen namun memiliki
daging berwarna putih yang sangat diminati pasar luar negeri.
Sedangkan ikan Patin hibrid Pasupati memiliki keunggulan steril, daging
putih sehingga diminati pasar luar negeri, tinggi daya tahannya terhadap
perubahan lingkungan serta penyakit serta memiliki kandungan lemak yang
rendah (15 persen) sehingga aman bagi yang memiliki kolesterol tinggi.
Dikatakannya, peluang pasar ekspor ikan patin sangat besar di Amerika
Serikat maupun Eropa dengan harga berkisar 2,7 hingga 3 dolar AS per
kilogram dengan kebutuhan mencapai 30-50 ribu ton per tahun.
"Sementara ini kebutuhan pasar luar negeri diisi oleh Vietnam sehingga
peluang pasar masih terbuka lebar untuk diisi Indonesia," katanya.
Saat ini, tambahnya, produksi ikan patin Indonesia baru mencapai 16.500
ton pada 2005 sementara 2006 ditargetkan 20.000 ton yang mana 80-90 persen
berasal dari ikan patin Siam yang warna dagingya kemerahan sehingga kurang
diminati pasar luar negeri.
Untuk menghasilkan 20.000 ton pada 2006 dan 35.000 ton pada 2009 patin
daging putih, menurut dia, sangat sulit diperoleh dari Patin Jambal sehingga
diharapkan akan diperoleh dari Patin Hibrid Pasupati.
Sementara itu, untuk lobster air tawar Huna Biru yang aslinya berasal
dari Papua memiliki harga jual Rp3.500/ekor dengan ukuran 5-6 cm dan setelah
delapan bulan pemeliharaan hingga mencapai 8-9 cm dengan berat 15-16 gram
bisa bernilai Rp60.000-Rp70.000/kg.
"Ikan ini secara teknis mudah dibudidayakan begitu juga teknik
pembenihannya juga tidak sulit," katanya.
Sedangkan untuk lobster Huna Capit Merah yang merupakan spesies asal
Australia peluang pasarnya sangat besar baik untuk dalam negeri maupun luar
negeri utamanya di Singapura, Hong Kong, Jepang dan Australia.
Ukuran benih berumur 60 hari berkisar 5-6 cm sudah layak dijual dan
dibesarkan dengan harga jual benih antara Rp2.500-Rp3.500/ekor.
Setelah melalui pemeliharaan selama 4-5 bulan hingga mencapai ukuran
90-100 gram untuk konsumsi maka harga jual berkisar Rp150.000-Rp250.000 per
kg. antara/pur
|

Koran Seputar Indonesia (SINDO), Kamis 05/04/2007
Investor Lirik Tambak Udang
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/sumatra-utara/investor-lirik-tambak-udang.html
| MEDAN (SINDO) – Penambak udang
lobster air tawar (LAT) di Sumut sedang menjajaki kerja sama dengan investor
lokal dalam pengembangan usaha tambak udang LAT, khusus untuk skala konsumsi
dan ekspor.
Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Budi Daya Perikanan Sumut, khusus Lobster
Air Tawar, Juwari mengatakan, penjajakan ini dilakukan karena para penambak
udang LAT di Sumut masih kekurangan modal untuk pengembangan tambak udang
LAT di Sumut. ”Kami sedang menjajaki beberapa investor lokal di
Sumut.Harapan kami, dalam waktu dekat sudah ada investor yang tertarik dan
mau mengembangkan udang LAT, baik untuk skala konsumsi dan juga untuk
mengekspor,” kata dia kepada SINDO,kemarin.
Menurut Juwari, salah seorang investor yang menyatakan ketertarikannya
telah menyediakan lahan tambak yang luas di daerah Deliserdang untuk
pengembangan udang LAT tersebut. Saat ini, lanjut Juwari, bisnis
pengembangan udang LAT di Sumut,baik untuk pembibitan, dan pembesaran kian
diminati masyarakat karena dianggap semakin prospektif. Dari hasil pelatihan
yang digelar asosiasi ini beberapa waktu lalu,misalnya sudah ada 12 orang
yang menyatakan tertarik untuk memulai bisnis di pembibitan dan pembesaran
udang LAT.
“Kami sangat berharap akan semakin banyak masyarakat Sumut yang tertarik
untuk berbisnis di udang LAT karena bisnis ini memang prospektif. Semakin
banyak yang berbisnis, kami akan lebih optimis mampu mencari peluang pasar
untuk ekspor karena pasokannya sudah ada,”paparnya. Saat ini, kata Juwari,
produksi benur atau bibit udang LAT dari tiga hingga lima penambak intensif
di Sumut sudah mampu memenuhi kebutuhan benur di tingkat lokal.
“Sebelumnya, kita masih kekurangan benur, apalagi setelah minat
masyarakat beternak semakin tinggi,”lanjutnya. Dia menjelaskan, permintaan
benur udang LAT di Sumut, setiap bulannya, mencapai 10 ribuan ekor.
Sementara, produksi di lima penangkar yang ada saat ini sudah berkisar 8
ribu ekor. Jumlah ini masih ditambah lagi dengan produksi benur dari
penambak-penambak kecil di Sumut, yang akhirnya mampu memenuhi kebutuhan
benur di tingkat lokal.
Harga jual benur udang LAT ukuran dua inci itu saat ini sekitar Rp2.500
per ekor. Benur bisa dipanen setelah dipelihara selama enam hingga tujuh
bulan dengan harga jual berkisar Rp250 ribu–450 ribu per kg. “Permintaan
benur dan induk LAT sudah pasti terus meningkat karena saat ini pasarnya
juga masih sangat luas.Peluang ekspor udang LAT ke Malaysia juga tahun ini
sangat terbuka luas, tapi pembelinya masih harus dicari supaya tahun ini
bisa segera mengekspor udang LAT ke Malaysia,”jelasnya. (maria christina
malau)
|

http://kotakediri.go.id/news/ 29 Aug 2006
Lobster Datang, Usaha Perikanan Bergairah
|
Sesuai dengan letaknya, Kota Kediri
merupakan daerah pedalaman (jauh dari laut)
yang mempunyai potensi budidaya ikan air
tawar dan pemanfaatan /penangkapan ikan dan
biota air di perairan umum.
Apalagi, Kota Kediri mempunyai banyak sungai
yang mendukung pengairan lahan perikanan
yaitu Sungai Kresek, Parang, Kedak, Brantas
dan Ampel. Ditambah juga 26 sumber mata air
yang cukup banyak untuk mengairi kolam-kolam
budidaya ikan.
Disamping kegiatan budidaya ikan yang selama
ini sudah banyak digeluti oleh para petani
ikan, saat ini mulai berkembang jenis
komoditi perikanan yang cukup menjanjikan.
Komoditi yang berprospek menghasilkan
keuntungan lebih dibanding ikan jenis lain
ini juga memungkinkan untuk diekspor, yakni
Lobster Air Tawar (LAT) atau Freshwater
Crayfish.
LAT adalah jenis komoditi yang tersebar di
seluruh dunia, mulai dari Austaralia,
Newzealand, Papua, Amerika, Jepang, China,
Madagaskar, Amerika dan Eropa. Kini, udang
jenis ini mulai banyak dibudidayakan tidak
hanya di papua, tapi di kota-kota di
Indonesia termasuk Kota Kediri.
Beberapa jenis lobster yang beredar di
Indonesia antara lain Cherax Destructor
yang merupakan jenis (LAT) paling
dikenal diantara 100 jenis LAT yang hidup di
Australia dan konon merupakan makanan orang
suku asli Australia (aborigin) sejak 28.000
tahun lalu,
Cherax quadricarinatus
atau redclaw yang paling lezat disajikan
dalam bentuk LAT bakar,
Procambarus clarkii yang pernah
dilarang untuk masuk ke Australia karena
dikhawatirkan menyaingi crayfish asli, dan
beberapa jenis species lokal asal Irian.
Dari sekian jenis lobster, yang kini banyak
di budidayakan di Kota Kediri adalah jenis
redclaw (capit depan berwarna merah untuk
lobster jantan, red), sementara lobster
lokal asal Irian malah masih sulit
beradaptasi di Kota Kediri.
Tidak sedikit petani ikan di Kota Kediri
kini mulai beralih untuk membudidayakan
lobster. Usaha ini memang cukup menjanjikan
apabila dikelola dengan baik dan
professional.
Misalnya saja Bapak Eko Wahyudi. Lelaki yang
juga berprofesi sebagai guru PKN SMA 4 ini
sudah bersahabat dengan ikan sejak 22 tahun
lalu. Awalnya ia membudidayakan lele lokal.
Tiga tahun kemudian, yaitu tahun 1987, usaha
yang dikelolanya di Bandar Kidul tersebut
beralih ke pembudidayaan lele dumbo. Namun
pada akhirnya ia juga mulai beralih ke
pembudidayaan lobster 7 bulan yang lalu
tepatnya 3 Januari 2006. Kolam sebelah sini
masih ada nila dan bawal, yang lain sudah
lobster semua, dan rencananya setelah panen
nanti nila dan bawal juga akan saya ganti
lobster, terang lelaki yang sudah pindah ke
Manisrenggo (tempat tinggalnya sekarang,
red) sejak tahun 1999 itu.
Biaya investasinya diakui memang lebih besar
dari biaya budidaya komoditi lain, namun
kalau usahanya sudah berjalan, petani hewan
nocturnal (bersembunyi siang hari dan muncul
malam hari, red) ini dapat menuai keuntungan
yang luar biasa.
Ketika mengawali usaha pak Eko membeli satu
set indukan.
Satu set terdiri dari 5 betina dan 3 jantan
dengan ukuran rata-rata 4 inci. Indukan
dapat dibeli di beberapa kota seperti
Mojokerto, Malang ataupun Lamongan.
Oleh Pak Eko, 1 set indukan ini diletakkan
dalam kolam seluas 10m2 dengan
tinggi 60 cm yang sebenarnya mampu menampung
1 paket lobster (10 jantan dengan betina
50-60 ekor). Bisa saja dilebihkan isinya
sampai 100 dengan perbandingan 15 jantan dan
85 betina, terangnya, namunperlakuannya
harus berbeda, misal dengan menambahkan
waterpump.
Untuk ukuran indukan ini, petani masih harus
menunggu 1.5-2 bulan untuk dapat bertelur
dengan perawatan/pemberian pakan 3
gr/hari/ekor. Setelah bertelur,
lobster-lobster tersebut masih harus angrem
untuk menetaskan telur-telurnya selama 2
bulan dengan asumsi pakan sama dengan
hari-hari sebelumnya yaitu 3 gr/hari/ekor.
Saat menetas, dengan Survival Rate lobster
80%, betina dapat menghasilkan telur yang
kemungkinan hidup sekitar 350 ekor.
Namun sebelum menetas, induk-induk yang
masih mengerami telurnya harus dipisah dalam
kolam-kolam berbeda. Masing-masing
diletakkan pada kolam berukuran 1 x 2 m.
Kolam tersebut sekaligus digunakan untuk
pemeliharaan benih sampai dengan ukuran 1
inci. Setelah telur menetas, induk diambil
lagi dan dimasukkan kembali ke kolam
indukan, kata Pak Eko, sedangkan
anakannya tetap tinggal dan dipelihara.
Setelah usia 1bulan (1 inci), benih dapat
dijual dengan harga petani 2000 per ekor.
Biasanya yang banyak diminati adalah benih
usia 1 bulan karena kebanyakan pembeli
merasa takut untuk membeli benih usia 2
bulan (2 inci) karena harganya mencapai 5000
per ekor.
Saat ini, petani ikan di Kota Kediri masih
mengembangkan usaha pembenihan, karena
pembesaran lobster memerlukan investasi yang
lebih besar. Namun, tanpa usaha pembesaran,
pembenihan pun cukup menjanjikan. Permintaan
benih banyak sekali, Singapura saja
mengimpor dari Indonesia,cerita Pak Eko yang
mengaku sering mendapat informasi penting
dari majalah-majalah perikanan, termasuk
perkenalannya dengan lobster.(and) |
|
|
|

| Ujung Pandang Ekspres, Kamis, 05-07-2007
Ocean Thaza Lakoni Bisnis LobsterAirTawar
www.ujungpandangekspres.com |
 |
MAKASSAR, Upeks--Perkembangan bisnis pembudidayaan
lobster air tawar yang tergolong masih langka itu kini sedang banyak
diminati para pecinta lobster air tawar Makassar. Dalam pameran Bursa
Flora & Fauna 2007 pertama di Makassar itu turut serta memperkenalkan
Ocean Thaza sebagai salah Satu perintis pengembang budidaya lobster di
Makassar.
|
"Budidaya
lobster air tawar merupakan bentuk kegiatan yang mencakup Empat bidang
dalam Satu produk berupa fresh fish. Lobster air tawar ini memiliki
Empat manfaat dan varian berupa lobster anakan, lobster hias, lobster
indukan super dan lobster konsumsi cukup dengan Satu jenis fresh fish
seperti lobster air tawar," terang Zaldy dan Ary, Pemilik Ocean Thaza,
kepada Upeks, beberapa pekan lalu.
Memelihara ribuan lobster air tawar merupakan kesenangan kedua remaja
pemilik Ocean Thaza, berada dibilangan jalan masuk ke BTP, perusahaan
yang dinamai CV Marion Perdana kini terus mengembangkan usahanya, "Sudah
pernah ada tawaran ekspor keluar negeri tapi kami tolak karena
permintaan lobsternya terlalu banyak," ujarnya.
Pameran yang berakhir hingga 8 Juli mendatang diyakini Ocean Thaza
sebagai salah Satu peluang usaha untuk perusahaan tersebut melebarkan
sayap dan memperkenalkan usahanya itu. Menawarkan harga Rp2 ribu
berukuran 1/2 inci hingga Rp10 ribu per ekor untuk jenis lobster anakan
dan hias, sedangkan untuk lobster konsumsi dan indukan super ditawarkan
dengan harga Rp1,5 juta per kilogramnya. (hasrul)
|

Kompas Jawa Tengah, Jumat 31 Agustus 2007
Usaha Lobster Air Tawar
Berkembang
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/31/jateng/58999.htm
|
YOGYAKARTA, KOMPAS - Kota Yogyakarta
dinilai potensial sebagai pusat
budidaya pembenihan induk lobster
air tawar. Penjualan induk lobster
ini dinilai lebih menguntungkan.
Usaha ini tidak membutuhkan lahan
luas dan modal besar, sehingga dapat
dilakukan dalam skala rumah tangga.
Untuk saat ini, baru ada satu
pusat pembenihan induk lobster air
tawar di Kota Yogyakarta, yakni di
Kelompok Tani Lobster Air Tawar (KTLAT)
Ngudi Rejeki, Kecamatan Gedongkiwo.
Kelompok yang beranggotakan 16
kepala keluarga ini baru satu tahun
berdiri.
"Meski masih tergolong baru,
tetapi perkembangan usaha lobster
ini sudah cukup baik. Induk lobster
yang dihasilkan oleh kelompok tani
ini sudah banyak dipesan oleh para
petani pemijah lobster di berbagai
daerah di Jawa," ujar Eko Budi
Suprihatin, petugas penyuluh
pertanian Dinas Pertanian dan
Kehewanan Kota Yogyakarta, Kamis
(30/8).
Menurut Ketua KTLAT Apih Ariswati,
asalkan rajin memerhatikan lobster
dan rutin membersihkan akuarium,
membudidayakan induk lobster air
tawar tidaklah sulit. Lobster juga
mudah diberi pakan, seperti pelet,
dan biji-bijian lunak, seperti
kacang hijau, atau kedelai.
Modal awal yang diperlukan untuk
memulai usaha budidaya ini adalah
induk lobster dan akuarium. Dengan
modal Rp 500.000 saja, usaha ini
sudah bisa dijalankan oleh satu
rumah tangga. Namun, mengenai
pemasaran hasil, Apih menyarankan
agar rumah tangga tersebut bergabung
dalam suatu kelompok.
"Kebanyakan penjualan selalu
terjadi dalam partai besar, kalau
lewat kelompok, lobster akan mudah
terjual karena tinggal mengumpulkan
dari para petani saja," kata Apih.
Dalam sebulan, Kelompok Tani
Ngudi Rejeki bisa menjual ratusan
set induk yang berisi lima betina
dan tiga jantan. Rata-rata tiap set
dijual Rp 250.000, dan omzet anggota
kelompok per bulan mencapai Rp
500.000. Lebih menguntungkan
Menurut Seksi Pemasaran KTLAT
Wahyu Sudrajat, penjualan induk
lobster memang lebih menguntungkan
dibanding lobster konsumsi.
Memelihara induk tidak butuh waktu
lama, 4-6 bulan, dan tidak dijual
dalam satuan kilogram. Sementara
untuk lobster konsumsi, untuk
mencapai ukuran 100 gram, harus
dipelihara minimal 10 bulan, dan
harga jualnya lebih rendah, sekitar
Rp 150.000 per kilogram.
Eko mengatakan, Pemerintah Kota
Yogyakarta akan serius mengembangkan
sektor budidaya induk lobster air
tawar ini. Dukungan pun akan
diberikan dalam bentuk pendampingan
usaha dan peminjaman modal. Untuk
tahun 2007, KTLAT sudah menerima
pinjaman sebesar Rp 30 juta yang
dibagi rata untuk setiap anggota,
dan dapat diangsur selama tiga tahun.
(YOP) |
|
|
|

www.trulyjogja.com
,12 Agustus 2006
Lobster Air Tawar, Primadona Baru Masyarakat Jogja
|
Dunia
pembudidayaan perikanan kini sedang
kedatangan primadona baru. Lobster air
tawar (Cherax quadricarinatus),
atau lebih dikenal oleh masyarakat Jogja
sebagai si sapit merah. Walau awalnya
bahkan ada yang bewarna kebiruan,
sebutan si sapit merah muncul karena
ketika dewasa Lobster jantan akan
memiliki sapit berwarna merah.
Binatang ini sebenarnya berasal dari
daerah New Zealand, Australia serta
Papua dan daerah sekitarnya, namun
rupanya cocok juga untuk dibudidayakan
di Jogja. Terbukti Lobster air tawar
yang saat ini dibudidayakan di Jogja
telah mengalami perkembangan yang cukup
pesat. Mulai dari pembibitan hingga
pembesaran telah banyak memberikan
sukses bagi pembudidayanya.
Hanya dengan perawatan yang sederhana
mendatangkan hasil yang cukup
menggiurkan. Tak heran usaha penangkaran
Lobster ini cepat digandrungi masyarakat.
Dari segi penjualan, permintaan Lobster
air tawar sebagai komoditi konsumsi
menjadi daya tarik tersendiri. Beberapa
rumah makan dan hotel yang memiliki menu
Lobster air tawar mengungkapkan bahwa
mereka masih kesulitan dalam mendapatkan
pasokan sapit merah. Ini karena
persediaan usia siap konsumsi yang masih
kurang.
Selain itu, pemeliharaan Lobster
jenis ini sendiri termasuk mudah.
Karenanya, sangat memungkinkan
pembudidayaan Lobster dijadikan kegiatan
sampingan. Contohnya saja, Lobster air
tawar dapat dikembangkan hanya dengan
menggunakan habitat aquarium. Mudah,
bukan? Walau mudah, tetap saja calon
peternak Lobster air tawar harus sedikit
belajar. Tak perlu repot, karena
pembelajarannya pun tak susah. Saat ini
telah banyak seminar maupun bacaan
mengenai pembudidayaan Lobster air tawar.
Ini tentunya juga memberikan gambaran
kepopuleran si sapit merah.
Tidak hanya untuk komoditi konsumsi
dan pembibitan saja, keragaman dan
keindahan warna Lobster air tawar juga
membuatnya menarik untuk dijadikan ikan
hias. Dengan harga yang bervariasi,
tergantung dari panjang dan besarnya,
Lobster air tawar telah menjadi trend
baru bagi masyarakat di Jogja.
(jan) |
|
|
|
|

www.pkpu.or.id,
Senin 20 Agustus 2007
Pelatihan Kewirausahaan PKPU - KKN UGM
Mencari Peluang dengan Wirausaha
|
PKPU Online YOGYAKARTA − Pasca gempa 27 Mei 2006 lalu masih menyisakan
beban bagi masyarakat korban gempa. Hingga saat ini roda perekonomian masih
belum stabil, masyarakat korban gempa masih disibukkan dengan membangun rumah−rumah
mereka setelah hancur diterpa gempa.
Hal tersebut membawa dampak terhadap kemampuan mereka dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya. Melihat kondisi itu perlu adanya kepedulian terhadap permasalahan yang
mereka hadapi.
Adalah daerah Cangkring, Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul yang menghadapi
masalahan tersebut. Desa yang terletak di sekitar 4 km sebelah utara pantai
Samas, Bantul ini ikut hancur akibat gempa.
Masalah yang mereka hadapi sama dengan daerah lain di DI Yogyakarta yang terkena
gempa. Untuk memberikan solusi yang dihadapi masyarakat di desa ini, PKPU DI
Yogyakarta bersama dengan KKN UGM yang ada di desa ini mengadakan Pelatihan
Kewirausahaan dengan tema “Mencari peluang dengan berwirausaha”
Kegiatan diadakan pada Ahad (12/8/2007) di SDN Terban Sidomulyo, Bambanglipuro,
Bantul sejak pukul 08.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB. Sebanyak 43 peserta
mengikuti pelatihan kewirausahaan tersebut dengan latar belakang pendidikan dan
usia, bahkan ibu−ibu juga turut hadir mengikuti acara tersebut.
Materi yang disampaikan diantaranya tentang Motivasi untuk Mandiri oleh Atik
Wahyunaryati, Mahasiswa KKN UGM, Peluang Wirausaha Tanaman Hias oleh Iman
Santoso dari Asosiasi Tanaman Hias, Bantul.
Selain itu juga materi tentang Peluang Wirausaha Budidaya Lobster Air Tawar oleh
Wahyu Sudrajat dari Peternak Lobster Air Tawar, Bantul dan materi tentang
Rencana Keuangan Usaha, Permodalan dan Kelompok Usaha oleh Kepala Bidang
Pendayagunaan PKPU DIY Muthori, A.Md
Dengan pelatihan ini diharapkan para peserta mempunyai motivasi yang kuat untuk
berwirausaha, memahami kiat−kiatnya sehingga mampu mandiri dan meningkatkan
tarif perekonomian mereka. Setelah pelatihan ini juga akan ditindaklanjuti
dengan membentuk KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) di desa ini. (Muthori/Sri/Zubaedah/PKPU
DIY)

www.Pertamina.com, 28 November 2005
20 Mitra Binaan PKBL UP IV Ikut Pelatihan Budidaya Udang LOBSTER Air Tawar
Program Kemitraan
& Bina Lingkungan Unit Pengolahan IV Cilacap mengikut sertakan 20 MB yang
bergerak dibidang Perikanan antara lain Windu Jaya Utama,Windu Kencana,Benur
Subur Mulia dalam pelatihan terobosan baru pembesaran Udang Lobster air tawar
super cepat yang dipimpin oleh Cuncun Setiawan dari Bintaro Fish Center (BFC)
Jakarta dan dijelaskan mulai dari teknik pembuatan kolam udang air tawar,
pengolahan air,formulasi pakan udang, EDU (Extra Density Unit), teknik kawin
massal, teknik pembenihan, pembesaran super cepat dan pengiriman udang. Udang
Lobster Air Tawar dapat dikonsumsi dan dimanfaatkan sebagai hiasan karena
warnanya yang indah,populasi jenis ini hanya ada di Papua. Ka. PKBL UP IV
Bambang Edy W. dalam usulannya dan mengungkapkan bahwa terobosan baru bagi
Budidaya Ikan terutama Udang Lobster air tawar yang digemari Pasar
International. (Spr/Mkr)

Keterangan lebih lanjut, Hubungi kami :
- BFC Farm (Pusat
Budidaya & Jual Beli Lobster Air Tawar)
-
Kp.Tegal Rotan Rt.01/07
No.49
-
Desa Sawah Baru, Ciputat
-
Tangerang
-
(Belakang Bintaro Trade Center Sektor VII)
-
021.707.66.44.2,
021.9811.22.59 (Bpk. Wawan)
-
0812.80.989.08 (SMS atau Telp)
-
- Email :
lobsterairtawar001@yahoo.com
|