(021) 70766442, 0812.80.989.08

PinBB: 758FEA0A    Whatsapp : 0812.80.989.08

Ir. Cuncun Setiawan

Founder of Bintaro Fish Center Group

Ir. CunCun Setiawan

 

Gelar S1 dari Institut Teknologi Indonesia (Cum Laude)

Mulai Tahun 2000 sudah bergelut pada usaha eksport cupang hias ke Amerika, Singapore, Korea, Kanada dan lain-lain
Mulai Tahun 2002 sudah mulai merintis usaha Lobster Air Tawar (LAT), mulai  sebagai pembudidaya, pembesaran, pemasaran dan penelitian yang mendalam tentang teknik pembesaran yang cepat.

Tahun 2004 - Sekarang, setelah menemukan teknik pembesaran super cepat & sistem kawin massal, mulai mengadakan training utk membina mitra-mitra dalam turut mensuplai kebutuhan LAT di Indonesia dan juga pasar Luar Negeri.

 

Pencetus Ide :

Pembesaran Lobster Super Cepat

Sistem Kawin Massal

Sistem Pembesaran Kolam Karpet

Teknik Packing yang benar

(Trubus Januari, Maret, September, Desember 2005, Februari 2006)

 

Narasumber di :

SCTV "Liputan 6 Siang", 4 November 2005

SCTV "Usaha Anda", 19 November 2005

TransTV "Good Morning", 22 November 2005

TransTV "Good Morning" 27 Mei 2008

TransTV "Bosan Jadi Pegawai" 1 Maret 2009

TransTV "Inspirasi Dorce" April 2010

Trans7 "Cipika - Cipiki"

Trans7 "Redaksi Siang" 19 Juli 2008

Trans7 "Dunia Air" 26 Juni 2009

Trans7 "Koki Cilik"

Trans7 "Kuas Ajaib"

Trans7 "Wara-wiri" 16 April 2010

TVRI "Gema Bahari" 6 Oktober 2006

TVRI "Kopi Pagi" 22 Juli 2008

RCTI "INI Show" 12 Desember 2006

MetroTV "Breakfast Club" 6 April 2007

SpaceToon "News" 7 Maret 2009

GlobalTV "Global Siang Akhir Pekan"

TvOne

 

Profil Pengusaha di Majalah Pengusaha (Klik Utk lihat berita)

Pebisnis Edisi Februari 2006

Majalah Trubus, Sedap (Gramedia Group)

Trobos

Agrobis

Mitra Bisnis,

Peluang Usaha Edisi Januari 2007

 

Buku :

Buku yang sudah dihasilkan berjudul "Teknik Pembenihan & Cara cepat Pembesaran Lobster Air Tawar"

Terbitan AgroMedia Pustaka

Best Seller ! Sudah terjual lebih dari 30.000 buku

"Ringkasan Isi buku"

 

 

Trainer :
Sampai sekarang sudah melatih lebih dari 7000 orang calon-calon pengusaha Lobster Air Tawar diseluruh Indonesia,
dengan lebih dari 300 angkatan di 24 Kota di seluruh Indonesia

 

 

 

Kisah Sukses
Diambil dari www.BeritaUsaha.com
 

Cuncun Setiawan, Sukses Besar Beternak Lobster Air Tawar

Berkunjung ke Kampong Tegal Rotan (di sekitar daerah Bintaro), beritausaha.com  menyambangi sebuah peternakan lobster yaitu BFC (Bintaro Fish Center). Disana kami bertemu dengan Ir. Cuncun Setiawan sebagai pemilik BFC yang terbilang sukses, beliau dengan senang hati menyambut kami untuk membagi kisah dan pengalaman hidupnya khusus untuk pembaca Beritausaha.com.

Awal jiwa wirausaha Cuncun  rupanya sudah dimulai dari sekolah dasar dengan menjual biji karet (mainan pada waktu  itu) yang ia dapat dari sekolah negeri sebelah dengan harga 100 rupiah kemudian di jual lagi dengan harga 1000 rupiah di sekolahnya. Tidak hanya itu saja, ketika SMP Cuncun  mencoba berjualan alat tulis yang ketika itu ia beli dari pasar pagi (Jakarta pusat) lalu kemudian dijual lagi di koperasi sekolahnya.

Seusai menamatkan SMP, ia masuk STM 7 Jakarta dengan harapan selepas lulus bisa langsung bekerja. Ia berfikir kondisi keuangan keluarganya kurang memungkinkan bagi dirinya untuk melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah. Ternyata nasib berkata lain, ia akhirnya bisa melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Indonesia (ITI) Serpong. Di bangku kuliah ini, jiwa wirausahanya semakin bertambah, Cuncun masih berbisnis alat  tulis ditambah dengan bisnis Multi Level Marketing yang memberinya skill berbisnis. Tidak lupa ketika kuliah juga ia membantu ayahnya untuk berjualan beras dan menawarkan ke restoran-restoran dan rumah – rumah.

Cuncun lulus dari bangku kuliah pada tahun 2000 dengan predikat Cumlaude (sarjana terbaik dengan IPK diatas 3,5). Namun dengan gelarnya itu, ia tidak tertarik untuk bekerja pada orang lain, melainkan ia mantap ingin berbisnis. Bak gayung bersambut, ada temannya yang memberi tahu ada peluang usaha di bidang Ikan Cupang.  “Nah pas banget, waktu itu saya tidak punya modal sama sekali, tapi saya punya tempat di rumah orangtua, dan satu teman lagi ada modal. Akhirnya kami menjalankan usaha ini bertiga” tutur penghobi menembak dan baca komik ini.

Usaha ini sempat berjalan beberapa lama namun akhirnya berhenti karena kedua teman Cuncun memiliki kesibukan masing-masing. Tidak mau melewatkan keuntungan  usaha yang sudah dijalaninya, Cuncun memutuskan untuk berjalan sendiri membudidayakan  ikan Cupang dengan membeli aquarium yang awalnya dimiliki bertiga. Tidak lupa ia juga membeli satu buah kamera bekas (kadang hidup kadang mati) seharga 500 ribu rupiah dari temannya untuk dokumentasi cupang-cupang yang akan dijual.

Tidak disangka, Cuncun mendapat sukses lewat usaha ini, Ikan Cupangnya bisa diekspor ke Amerika, Kanada  dan Negara lainnya. Keberhasilan  awal ini tidak lepas dari jasa internet, padahal ketika itu untuk menggunakan internet ia harus  mengunjungi warnet yang cukup jauh dari rumahnya (wilayah tempat tinggal cuncun tidak ada jaringan telepon).  Beliau memasang ikan cupangnya disitus Aquabid (situs lelang hewan) yang dikunjungi dari seluruh dunia. Ikan cupangnya pada waktu itu dihargai $39, namun karena itu situs pelelangan, ikannya bisa naik harganya sampai $59.

Reaksi beragam didapat Cuncun dalam menjalani usaha awalnya ini. Orang tua Cuncun mempersilahkan Cuncun untuk berwirausaha, namun lain halnya dengan pandangan masyarakat sekitar, ”Orang kampung sekitar sini mengejek saya, melihat saya udah  lulus kuliah,Cumlaude,  keturunan Chinese, tapi kerjanya tiap pagi cuma nyerokin Encu (binatang  yang ada di empang-empang).  Mungkin pikir mereka ketika itu, mendingan anak gua kerja di kantoran daripada cuma nyerokin encu di comberan” tutur bapak satu anak ini.

Namun ia tidak peduli dan cuek saja dengan pendapat mereka karena ia merasa enjoy menjalani usahanya ini. Dari sana, bisnis ikan cupangnya berkembang, uang yang didapatnya dikumpulkan untuk mencicil motor,  dan membuat kolam semen kecil-kecil dengan tenaga sendiri disekitar rumah orang tuanya. Sampai akhirnya ia mempunyai 800 aquarium untuk ternak  ikan cupangnya. Ketika itu, pekerjaannya sehari-hari hanya membersihkan ratusan kolam dan aquarium,  mengupload foto di internet, dan memelihara cupangnya. Sampai akhirnya tahun 2002, Cuncun melihat peluang di bisnis lain ”Saya juga lihat peluang lain seperti usaha ikan Lou Han,Gapi dan Lobster Air Tawar (LAT),” dan akhirnya pilihannya jatuh kepada Lobster Air Tawar, karena masih jarang pemainnya ketika itu.

Ia tidak langsung beternak lobster, awalnya ia hanya melakukan trading dimana lobster yang akan dijualnya ia dapat dari teman yang beternak lobster. Metode Trading dalam  percobaan usahanya ini lumayan berhasil. Namun juga kegagalan  pernah dialaminya, seperti pada suatu ketika ia harus menghantarkan lobsternya bersama istri dengan menaiki motor. Lobster itu ditaruh di dalam box sterofoam yang terletak dibelakang, sesampainya di tempat, ketika dilihat, boxnya ternyata sudah  hancur dan lobsternya sudah kabur karena bagian bawah sterofoamnya hancur, kerugian pun didapat cuncun, Rp 1,6 juta pun  melayang. Karena waktu itu Cuncun baru memulai usaha ini, jumlah sebesar itu terbilang besar. Namun Cuncun tidak menyerah.

Sebenarnya permintaan akan Lobster Air Tawar  lumayan banyak ketika itu, dan akhirnya ia memutuskan untuk  mencoba beternak Lobster sendiri. Dari keuntungan berjualan lobster sebelumnya, uang tadi digunakan untuk membeli Indukan. Lobster yang siap dijual, berukuran dua inchi dan berwarna menarik. Lalu beliau mulai berpikir, apabila Lobster hanya di perjual belikan untuk hias dan dipelihara saja, tidak akan ada pembelian  berulang lagi dalam jumlah besar,  sedangkan Ikan cupang sudah tidak menjanjikan karena sudah banyak saingan dari Thailand dengan harga yang lebih murah. Maka dimulailah usaha baru yang dirintis sampai sekarang, yaitu Lobster Air Tawar siap konsumsi dimana lingkup pasar akan lebih luas dan lebih jangka panjang dalam skala yang besar.

Beliau menuturkan  modal untuk memulai usaha ini ia dapat dari perputaran bisnis Cupang sebelumnya. Awalnya beliau banyak bereksperimen dengan mencoba untuk membesarkan Lobster ini di aquarium, kolam semen, dan kolam  ikan. Akhirnya setelah berbagai cara dilakukan, beliau berhasil menemukan metode pembesaran Lobster dengan biaya paling murah dan paling cepat, yaitu di kolam Tanah yang memakan waktu selama 6 bulan untuk bisa ‘panen’. Kolam semen memang memakan waktu yang sama, namun untuk membuatnya membutuhkan uang yang tidak sedikit, berbeda dengan aquarium yang membutuhkan waktu 10 bulan untuk membesarkannya.

Ilmu Teknik elektronyapun sampai sekarang tidak terpakai, ”yang banyak terpakai justru ilmu dari MLM yang saya pernah  ikut ketika kuliah, mulai dari ilmu presentasi, menjelaskan, dan menjual sesuatu”tuturnya.

Kegagalan tidak luput dari bisnis yang ia geluti saat ini, ketika awal memelihara lobster sering ada lobster yang mati, namun ini dijadikan Trial & Error baginya, dicobanya berbagai metode dalam pemeliharaan karena pada waktu  itu ia tidak berguru kepada siapapun sehingga ia melakukan semuanya secara otodidak. Ketika sudah berhasil memelihara dan mengembangbiakkan lobster, muncul masalah baru yaitu masalah pengiriman, karena pada waktu  itu tidak hanya dari Jakarta saja orang memesan lobsternya, namun sampai Surabaya, Medan, Kalimantan dan Sulawesi juga. Pengiriman jarak jauh pun dimulai, awalnya beliau mencoba dengan  metode seperti mempacking ikan cupang, beberapa berhasil namun beberapa gagal terkirim karena terlalu berat di air dan plastik yang bolong karena Capit lobster. Dicoba lagi metode lain dengan metode pengiriman kering, namun beberapa kegagalan ditemui mulai dari mati kepanasan, tidak ada udara, dll.

Setelah semua kegagalan  tadi, akhirnya packing kering berhasil dengan pemberian oksigen dan es.  Kegagalan lainnya adalah pernah suatu ketika ia membeli lobster dari Papua, dengan harapan  lobster itu dapat dijual kembali, namun  kenyataannya, lobster itu hampir semuanya mati, sehingga harapan cuncun mendapat untung sirna. Namun semua kegagalan itu menjadi pengalaman dan ilmu untuk beliau sebagai bekal untuk usaha ini kedepannya.

Selepas menemui berbagai-bagai kegagalan, cuncun akhirnya berhasil menemukan metode yang efektif untuk beternak lobster  konsumsi, dimana omzet penjualannya relatif  besar dan terbilang stabil setiap bulannya. Hal ini pun terdengar ke telinga orang – orang yang ingin memulai usaha serupa, mereka datang ke BFC untuk mengetahui seluk beluk pemeliharaan Lobster Air Tawar  ini.

Awalnya satu orang datang padanya minta diajarkan ilmu ini, lalu keesokan harinya datang seorang lagi, dan akhirnya membuat beliau bergagasan untuk mengumpulkan orang – orang yang tertarik dalam budidaya Lobster dalam pelatihan, dengan harapan ketika mereka sudah mengerti caranya, mereka akan membeli Lobster indukan atau bibit untuk pembesaran.

Untuk hal ini beliau berkonsultasi terlebih dahulu dengan sang istri,  dan akhirnya pada waktu itu ia beriklan di  majalah Trubus. Dan tidak disangka ketika pelatihan pertama pesertanya lumayan banyak, tidak kurang dari 50 orang mengikuti pelatihan. Pelatihan ini ramai karena gratis. Jadi pemasukan akan didapat apabila peserta membeli lobster cuncun. Namun pelatihan gratis  ini malah disalah gunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, ada yang tidur ketika pelatihan, bahkan ketika pelatihan berlangsung ada yang malah bagi-bagi kartu nama untuk menjual lobster.

Akhirnya Cuncun memiliki inisiatif untuk mengadakan pelatihan berbayar sebesar Rp 499 ribu, jadi setiap orang yang ikut pelatihan ini akan mendapatkan 1 set lobster ( 5 betina 3 jantan). Dampak positifpun diperlihatkan, dimana para peserta memperhatikan dengan serius apa yang diajarkan sehingga beliau  menjadi semangat dalam mengajar dan  memberi training. Sampai saat ini, peserta yang telah mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Cuncun sekitar 7.000 orang yang sudah diadakan di 26 propinsi di sluruh Indonesia.

Setelah ada beberapa orang yang berhasil memproduksi lobster, mereka mulai kebingungan untuk mencari pasar untuk memasarkan  lobsternya. Cuncun  pun ditawari untuk memasarkan lobster-lobster ini, dan ia menyanggupi hal itu. Benih-benih lobster ditampung di mitra pembenihan, lalu dijual ke orang yang memiliki kolam ( yang disebut Mitra pembesaran ), dan setelah siap konsumsi, ia supply ke mitra yang disebut mitra pemasaran (bisa ke restoran, hotel, ataupun ekspor ke luar negeri dengan sistem beli putus).

Kini pencapaian yang sudah diperoleh Cuncun adalah perkembangan usahanya yang awalnya hanya beberapa kolam saja, sekarang sudah berkembang menjadi puluhan kolam yang berlokasi di kampung  tegal rotan. Tidak itu saja, beliau juga mampu membeli tanah seluas 2.500 meter, yang didalamnya juga dibangun kolam untuk lobster, tempat pelatihan dan rumah bagi keluarga kecilnya. Omzet perbulan yang didapat Bintaro Fish Centre saat ini sekitar 25 juta rupiah per bulan dengan profit sebesar 30%-40%, itu baru dari penjualan lobster saja, belum termasuk pelatihan, dll.

Setelah usaha lobsternya berhasil, apalagi yang menjadi cita-cita Cuncun saat ini?  ”Saya orangnya terus bergerak kedepan, ketika usaha  lobster sudah berjalan baik,saya memelihara landak mini sejak tahun 2008. Dari sepasang landak sampai akhirnya bisa menjadi 30 landak pada akhirnya, dan juga tidak lupa ada kelinci ND yang juga saya kembangkan, jadi pada akhirnya semoga semua ini dapat mendapat kemajuan yang sama seperti Lobster Air Tawar” terang pria yang  saat ini sudah menginjak usia pernikahan yang ke 6 ini.

Kini cuncun sudah menikmati hidup dan hasil usahanya, ia telah membuktikan bahwa sebuah bisnis yang besar tidak melulu selalu dimulai dengan modal yang besar, ia bahkan memulai usaha lobsternya ini tanpa kocek pribadinya, karena modalnya ia dapatkan dari perputaran usaha yang dilakukan sebelumnya ( jualan ikan cupang, dll ). Melalui kisah hidupnya, Cuncun telah membuktikan dan mengajarkan bahwa hidup itu harus berjuang, jika menghadapi kegagalan hadapi dan ambil hikmahnya, lantas terus kembali berjuang. Niscaya jalan kesuksesan itu akan terbuka untuk kita yang mau berjuang dan memperjuangkan hidup.  (Tes/red)

 

Informasi Narasumber :

Ir. Cuncun Setiawan.

Kp.Tegal Rotan Rt.01/07 No.49, Desa Sawah Baru, Ciputat Tangerang. (Belakang Bintaro Trade Center Sektor 7)

Bintaro Jakarta Selatan.

Email : lobsterairtawar001@yahoo.com.

www.lobsterairtawar.com

Alamat & Peta BFC Farm   Email :  lobsterairtawar001@yahoo.com
Copyright © 2010 Bintaro Fish Center
BFC Farm 021.70766442 , 0812.80.989.08